Showing posts with label prosa puitika. Show all posts
Showing posts with label prosa puitika. Show all posts

Tuesday, December 1, 2009

PROSA PUITIKA-20




Semakin aku tahu banyak hal, semakin aku merasa bahwa hanya sedikit yang aku tahu. Dan, tentu masih banyak yang harus aku ketahui selagi hayat masih di kandung badan.

Sunday, November 29, 2009

PROSA PUITIKA-19



aku senantiasa merasa kosong, tawar, hambar, tak berarti. bertahankah aku dalam menghadapi semuanya ini?

Thursday, November 19, 2009

PROSA PUITIKA-18




[kalau aku direnggur oleh maut nanti, jelas aku akan tinggalkan segalanya yang berbau materi, bukan? dan yang akan aku bawa sertaku hanyalah rohku saja. ya, rabbi…bimbinglah aku selalu dalam pengembaraan ini ..]

Tuesday, November 17, 2009

PROSA PUITIKA-17



Apakah aku betul-betul berirama dengan gagasan yang mengatakan bahwa “Anak merupakan Bapak Manusia”?

Wednesday, October 28, 2009

PROSA PUITIKA 16



Gusti, kedalam tanganMu aku serahkan seluruh nyawa dan raga ini. Dalam tidurku yang pulas, aku ingin senantiasa terjaga—guna mendengar bisikan-bisikan bijakMu.

Monday, October 26, 2009

PROSA PUITIKA-15:



Aku ingin menjadi sinar. Aku ingin menjadi garam.

Tuesday, August 11, 2009

PROSA PUITIKA-14



Tak ada yang baru dalam segala hal, kala matahari masih terbit di ufuk Timur, dan tenggelam di ufuk Barat. Yang ada hanyalah daur-ulang, yang senantiasa memaparkan keanekaragaman bentuk pada derap waktu.

Tuesday, July 28, 2009

PROSA PUITIKA-13



Suara Tuhan, suara profetik—menembus dinding waktu. Masihkah kita berpura-pura, menjadi orang-orang yang tuli?

PROSA PUITIKA-12



Aku harus belajar banyak untuk diam. Tak ada tawar-menawar. Dengan demikian, dengan mudah aku menangkap bisikan sabda-sabda ilahi.

PROSA PUITIKA-11



Sama halnya dengan pisau; otakku dan hatiku akan tumpul bila tidak aku asah senantiasa. Aku tak bakal memilah persoalan hidup dengan ketajaman pikiran dan batin.

Wednesday, May 13, 2009

PROSA PUITIKA-10




Seperti tumbuh-tumbuhan yang membutuhkan air, tanah subur, mata hari dan udara segar demi mengembangkan tunasnya, hidup, dan menjulurkan ranting, dan cabang-cabangnya; demikian pun aku: sebagai seorang anak, aku sangat membutuhkan cinta dan perhatian dari orang-tua serta sanak keluarga yang lain demi pertumbuhan tubuh dan jiwaku, dan kemudian siap menjalani perjalanan hidup kita yang penuh zig-zag ini.

Tuesday, April 7, 2009

PROSA PUITIKA- 9



Aku diminta untuk tidak hanya membaca buku-buku cetak, tetapi membaca pula buku kehidupan.

Wednesday, April 1, 2009

PROSA PUITIKA-8



Aku menatap jauh ke depan—membayang hari esok, yang cepat atau lambat, akan tiba jua. Aku pun mempersiapkan diriku. Gusti, jangan biarkan aku berjalan sendirian!

Thursday, March 26, 2009

PROSA PUITIKA 7-



Bunda Ramelau, selamatkanlah kami! Perhatikanlah kami. Jangan biarkan kami jatuh ke dalam lumpur!

Tuesday, March 24, 2009

PROSA PUITIKA 6



Aku adalah seorang pejalan sunyi. Selalu sedia untuk menyapa siapa saja dalam perjalanan panjang ini. Selalu sedia untuk mengajak bekerja sama. Namun, kalau ajakanku ini tidak diterima, tak apa. Aku akan mundur, pelan dan pasti, dan menelusuri lagi perjalanan sunyiku.

Tuesday, February 10, 2009

PROSA PUITIKA-5



Aku sakit berat; batinku tersiksa, ya Rabbi. Perkenankanlah aku menyentuh jubah-Mu! Siramilah aku pula dengan minyak zaitun kasih-Mu, agar aku lekas sembuh.

Wednesday, February 4, 2009

PROSA PUITIKA-4



Kehadiran seorang ibu di dunia dengan segala kerapuhan yang dimilikinya, memberikan dorongan kepadanya untuk mengangkat bicara. Suara ibu adalah sebuah suara emas. Sebuah suara yang halus. Sebuah suara yang penuh iba, kadangkala bersenandung di dalam angkasa sunyata.

Tuesday, February 3, 2009

PROSA PUITIKA -3



Di dalam momen-momen kesendirianlah kita banyak kali berpikir, dan mengambil keputusan-keputusan yang sangat menentukan dalam perjalanan hidup kita ini, yang penuh dengan hitam dan putih.

Monday, February 2, 2009

PROSA PUITIKA-2



Bunda laksana sebuah mata air, yang mengalir sepanjang waktu. Dengan air, kubasuh luka-luka. Dengan air, luka-luka menjadi sembuh.

Friday, January 30, 2009

PROSA PUITIKA-1



Dalam telapak tangan-Mu aku berkuncup. Dalam telapak tangan-Mu ingin kurebahkan sukmaku yang menggigil.